- 15.30 went to Gramedia. Diska buzzed a SALE is going on. Yeah, SALE. The excitement's no more. Saya sempat kaget melihat L.S.D.L.F masih bertumpuk. Where do those Pride People go? Ayo, yang ngaku Melek Fashion. This one is an insider! Mon Dieu! Akhirnya, saya beli WIWARA: Pengantar Bahasa dan Kebudayaan Jawa -Intip sedikit untuk baca Djojobojo Javaans ver; juga Speak Out - Teddy Resmisari Pane (Untuk kedua kalinya Karena yang ini pingin diberikan ke Cynthia Wijayani. So she would consider Communication as a career path. Damn, she's lucky she got a caring husband like me! Gee!
Saya bertemu Bunga (adik kelas) di kasir. Tersenyum. Back Straight. Kali ini saya tidak swishy seperti saat biasa bersama dia dan gengnya. Matanya juga seakan memelas, memohon: 'Plis, jangan heboh. I'm with mom. Jangan sampe beliau sadar anaknya sekolah di kebun binatang. I've said please!'
Oh, yeah. Dan saya beastmaster-nya.

Khusus SALE, dibuatkan tenda di luar. Supaya SALE Craver sadar haknya beda dengan yang dari kasta Lihat-lihat-tapi-di-tempat-barang-mahal. Setelah membayar, saya pindah kasta.
Di dalam, saya langsung menuju mama yang sedang lihat-lihat (LIHAT-LIHAT saja) di bagian yang memajang majalah-majalah seputar Interior & Eksterior. Untung, dekat situ banyak novel. Saya jatuh cinta pada sampul novel-novel sekarang. Sudah pandai mereka mencontek sampul novel si Natsume Soseki, rupanya. Gee! I'm living in a nation with schools of Masters in Conterfeiture. Mon Dieu!
Ah, tapi ada yang cakep juga: buku fotografi! Sayangnya, germonya (penulis. I know i'm a drag-ma queen.) kelas atas. Yang dijual saja yang lebar-kali-panjang-kali-tinggi-nya akan sangat amat mencolok di rak buku saya yang isinya postur-postur tubuh kelas bulu, macam RD Asia. Ah mi Dios. Usted es tan travieso! Stingy-o!
Tau tidak, karena kakak saya sudah keburu pegal, saya buru-buru mengambil satu buku. Chicken With Plums-nya Marjane Satrapi! Mi Dios! Dengan terjemahan "Ayam dengan Plum" pada judul, seharusnya saya tahu ini jebakan penerbit Indonesia yang nyariin kerjaan buat pacarnya yang penerjemah. Bastardo! Naughtio!
Ya sudah, lah. Anggap ini uang rokok yang saya kirim karena sudah mendapatkan Persepolis lewat jalur unduh. Sampai seri kedua, pula. Je suis vilain!. Maaf, Marji!

- Home, until now- Saya mau mengunggah ini foto-foto. Sekalian buat daftar-daftar Was-Is-Done-Doing saya. Juga Fashion Wish. Ahh, saya buat draft dulu. I won't be distracted with comics, dramas, movies, or such. Or maybe i will? Like somemama i know.

(Mama, TA gimana? *browraise)

I'm watching the first season of Ugly Betty and House, M.D. just now. I know. Dan, err.. i watched a trailer of a porn from BaitBus. Sebagian, koq! I'm keeping my record of having-no-porn-at-all! Tenang saja, Pride People!

Satu. Lidah Kelu, dan Sayap Kaku.

Kamu menangis malam itu. Aku hanya disitu. Diam dan menunggu. Berharap keberadaanku berarti untukmu. Walau hanya diam dan kaku, aku berharap kau bercerita padaku. Kau cantik sekali mengenakan gaun itu. Tangisanmu saja, tak cukup melunturkan kecantikanmu. Lidahmu tetap kelu. Aku pun begitu. Setengah jam lebih kita disini tanpa saling menyapa. Apa kau sudah lupa rasanya tertawa? Apa kau menangis karena dia? Sudahlah sayang, aku selalu ada.

Gadis itu masih menangis. Tersedu – sedu. Ia memeluk erat gaun putihnya. Sesekali ia menjerit histeris. Hanya mendengarnya, sudah membuat hatiku miris. Kami masih diam. Tiba – tiba seorang pria datang dan menghampirimu. Wajahmu seketika berubah. Air matamu berubah menjadi api marah. Kau mencoba meraih apa pun disekitar mu. Bantal, Sepatu mu, Gelang mu, Kalung mu, Tas mu, -- hampir semua. Pria itu melihatmu bingung. Kau mencoba lari, tapi pria itu sigap dan menangkapmu. Kau meronta, berteriak keras. Sang Pria hanya menatapmu kebingungan. ”Kamu kenapa!” Ia bertanya dalam bingung. Kepanikan tergambar diwajahnya. ”Diam kamu... Peduli apa! Kamu hanya memikirkan dirimu!” Kamu menjawab dengan nada rancu. Marah, tapi tak jelas apa yang membuatmu marah begitu. Pria itu masih mencoba mendiamkanmu. Ia mencoba mendudukkan mu di tempat tidur. Kau terlihat mulai diam. Ia coba bertanya, tapi terhenti. Sepertinya lidahnya ikut kelu seperti kamu. Ia duduk disana, bersikap abai pada kehadiranku. Tiba – tiba kamu memelukku. Walau masih dengan lidah yang kelu, hatiku tersenyum. Aku bahagia dapat meringankan sedikit bebanmu. Walau hanya sekecil debu, lebih dari cukup bagiku. Tiba – tiba aku teringat sesuatu..

Pertemuan pertama kita begitu kaku. Kau yang masih gadis kecil, bingung melihatku. Kala itu, aku pun masih ragu, siapa kamu. Waktu menerbangkan kita dari titik yang satu ketitik yang lain. Dari tidak mengenal hingga jadi sobat kental. Dimana ada kamu, aku disitu. Walau kadang kau jauh, hatiku bersamamu. Kita satu. Tak terpisah Bhumi dan Kala. Lepas dari ikatan fisik dan aksara. Tak terikat ruang dan waktu. Masih ingat kah saat kau mengajakku berlarian di dekat batu gantung dekat danau toba? Sehabis kita bertamu dirumah tulangmu. Tulang Simanjuntakmu. Kau bercerita padaku, kau ingin menari. Bukan, bukan menari balet seperti angsa putih. Bukan juga menari polka seperti putri di kerajaan belanda. Kau ingin menari sebebasmu. Kau ingin bebas melompat. Bebas mengepakkan sayap. Dan ingin mengajakku bersamamu. Mimpi itu terus kau simpan. Walau dunia terus berusaha menenggelamkan mimpi indah itu. Mimpiku? Seandainya ada yang ingin tahu. Aku hanya ingin bersamamu. Dimanapun kamu. Siapapun dirimu kelak. Karena kita satu..









Tiba – tiba kau memandangku. Wajahmu terlihat tersipu. Ahh, senangnya tangisanmu sudah kusapu. Apa kabar dirimu, sayangku? Aku ingin bertanya padamu. Tapi lidahku kelu. Kalian mulai bicara. Kamu dan Pria itu. Lidah kelu mu mulai luluh. Tanpa menjujung tinggi rasa Ge-eR, mungkinkah itu karena ku? ”Bang, aku minta pulang.” Kata- katamu dibalut ragu. Pria itu memandangmu bingung. ”Kenapa? Aku salah apa, dek?”. ”Seandainya sesederhana itu, Bang. Aku mohon. Jangan tanya lagi.” Kau tidak menatap matanya. ”Berapa lama?” Pria itu bertanya padamu. Ia tak ingin melepasmu. ”Entahlah. Selamanya?” Kau tetap tak menatapnya. Ia memandangmu ragu. ”Tidak, dek.”. ”3 Minggu?” Kalian masih bertatapan ragu. Aku memandang matamu. Yang aku lihat, kau tak perduli apa jawabnya. Ya atau tidak, kau tetap ingin pergi. Kalian masih berbalut dalam diam. Lidah yang Kelu, Sayap yang kaku. Kenangan kita mengampiriku lagi.

”Ul..” Kau memanggilku lembut. Ku harap aku bisa menjawabmu. Kau masih memandangku. Seakan terbuai, kau lama memandangku. Aku pun memandangmu. Tiba tiba air mataku meleleh. Aku memelukmu tanpa berkata – kata. Lidahku kelu, sayapku kaku..

”Bang?” Kau masih memanggil dia. Dia tidak melirik kearahmu. Dia sedang menghadapi pertempuran besar. Antara perasaannya dan gengsi laki laki. Perasaanya menang. Air matanya jatuh. Tak ingin mengganggunya, kau pun pergi malam itu. Kau membawaku bersamamu. Langkahmu terhenti dipintu. Kau bingung mau kemana. Tidak ada pesawat yang terbang selarut ini. Kau mencari bus. Malam itu kau berangkat ke pelabuhan.

Aku ingin segera berkata – kata. Namun mulutku tak bisa menyuarakan aksara. Kita masih berpelukan. Erat. Kita kembali menjadi satu. Tangisku, tangismu. Hangatmu, hangatku. Aku mengambil kertas dan mulai menulis. Kau memperhatikan setiap kata. Setiap 5 kata pula, tangismu menetes. Lidahmu kelu, terbalut diam yang kaku.

Tidak ada kapal penumpang yang berangkat jam segini. Namun kau tak berhenti berusaha. Keinginanmu menggapaiku melebihi apapun. Kau menyusup ke kapal angkutan menuju Sumatra Utara. Kau bersembunyi diantara tumpukan ikan. Bau ikan - ikan itu tak membuatmu terganggu. Hanya setitik debu dibanding keinginanmu untuk bertemu diriku. Berhari hari kau menginap disitu. Tidur diantara tumpukan ikan – ikan. Makanmu? Apa lagi yang lebih lezat dari makanan yang terhidang di depan matamu? Kau memakan ikan – ikan itu mentah – mentah. Saat kapal telah dekat Sumatera Utara, tiba – tiba seorang dari awak kapal memergokimu. Kamu panik dibalut ragu. Lidahmu kaku.



Hari ini kepergianku menuju aceh. Seorang tun telah resmi meminangku jadi istrinya. Entah yang keberapa. Ibuku cepat – cepat setuju. Mungkin ia lelah merawat anak bisu seperti diriku. Aku sudah terbiasa dihina. Aku sudah terbiasa dianiaya. Ejekan dan umpatan hanya membuat geli telingaku –selama ada kamu. Tapi aku tak terbiasa tanpa dirimu.
Karena kita satu.

Kapal ikan itu masih berlayar dengan gagahnya menuju Sumatra Utara. Masih berlarian bersama angin Laut Cina Selatan. Kau masih terjebak dengan orang itu. Aku tak jelas mendengar suara kalian. Namun, kita masih satu. Aku telingamu dan matamu. Aku adalah kamu. Aku masih dalam tasmu. Ia mengancam mu. Ia meneriakimu dengan sebutan penyusup. Ia memaksamu menyerahkan tasmu. Kau menolak. Kau ingat aku masih di dalam situ. Kau mengambil tasmu sambil berjanji akan memberinya uang. Sebelum ia menjawab, kau sudah membongkar tasmu. Mencari aku. Tanganmu meraihku. Tangannya merangkulmu. Kau berontak. Meronta dan menendang. Kau berlari. Tak peduli arah tujuan. Sampai di pinggir kapal. Kau melompat. Satu harapan. Kau ingin bersatu dengan ku.

Waktu seakan berhenti. Semua ingatanmu berlarian dalam otakmu. Kau teringat wajahku. Senyum ku yang tampak bodoh. Namun membuatmu bahagia. Kau teringat sebuah surat. Surat terakhir dariku. Aku tak sanggup bertahan tanpa mu. Aku melompat sepertimu. Ke laut yang sama denganmu. Kau menangis dan memeluk aku. Aku? Ya, aku yang hadir tanpa batas ruang dan waktu. Aku yang satu denganmu. Yang tak terpisah Bhumi dan Kala. Lepas dari ikatan fisik dan aksara. Aku hadir dalam ulosmu. Kain tenunan ku yang selalu kau bawa kemana – mana. Yang kau bawa dalam setiap tarianmu. Yang kau peluk setiap kali kau lelap. Yang ternyata masih kau bawa sampai saat kau menyatu.

Kau tak merasakan dinginnya air itu. Begitu juga denganku. Biarlah. Aku ingin lepas dari ikatan ruang dan waktu. Agar dapat selalu bersamamu. Karena kita satu.

Selesai.
---------------------------------
Setuang – dua tuang Teh Hangat
Saya seorang yang kurang pintar merajut aksara. Bisa dibilang, ini cerita pendek saya yang pertama yang saya selesaikan dengan senyuman. Karya – karya sebelumnya tak tercetak dikertas. Hanya di lidah saja. Atau, lebih parah, hanya berupa konsep abstrak yang wara – wiri di kepala saya.
Saya selalu berkeinginan untuk menulis. Namun, jari saya tak terlalu lincah menari (Bohong, alasan resmi untuk menutupi kesalahan sebenarnya : Malas). Saya tak henti-hentinya bersyukur (Walau tidak dalam bentuk suara) kepada Tuhan. Siapapun dia, yang berada diatas sana. Tuhan, Yesus Kristus, Allah SWT, Sang Hyang Widi, Dewa Langit, Jehovah, Dei, Higher Power, Para Dewa, Para Dewi (Silahkan menambahkan sendiri). Karena Tuhan adalah konsep interpretasi yang unik dari tiap – tiap manusia. Tuhan, seperti layaknya cinta, merupakan refleksi dari pengalaman hidup manusia. Saya tidak bisa memberi batasan pada itu. Karena itu, demi mempersingkatnya, mari kita sepakat menuliskannya sebagai Tuhan (Hal sulit lainnya yang tak terselesaikan).
Syukur saya juga terbang kepada Mama. Sosok ibu yang diam – diam saya candu-i. Selayaknya pengguna obat – obat terlarang yang tak perduli apapun demi mendapatkan barang itu, saya pun tidak peduli dengan ejekan – ejekan ’Anak Mami’, atau apapun lah. (Memangnya ada yang mau jadi anak tetangga? Hehe). Bagi saya, ejekan seperti itu tidak ada artinya dibandingkan cinta beliau yang sudah selayaknya saya balas. Namun, sungguh, konsep balas membalas seperti ini tidak baik! Saya membalasnya bukan sebagai balasan. Tapi karena benci. Benar – benar cinta. Hahaha.
Syukur saya juga, kepada keluarga saya, komunitas social utama dalam perkembangan jiwa anak, Papa, Kak Lani, dan Bang Daniel. Tak henti – hentinya saya berterimakasih kepada Tuhan telah menghadirkan saya sebagai kado bagi mereka (hahaha), begitu juga mereka, kado bagi saya. 
Sebelum dilempar dan dibunuh orang – orang yang belum disebut namanya, saya ucapkan terimakasih kepada saudara – saudara jauh-dimata-dekat-dihati saya yang lain, Opung, Tulang, Nantulang, Uda, Inanguda, Bapaktua, Inangtua, Namboru, Amangboru, Ito, Lae, dan semua muanya.
Sebelum benar – benar dilempar (dan dibunuh), saya berterimakasih juga kepada teman – teman saya, dimanapun berada. Guru – guru (Dalam makna denotasi) saya, dimanapun berada. Serta semua orang yang telah mengijinkan perjalanan hidupnya bersinggungan dengan saya, walaupun sesaat. Baik yang mengenal nama saya, maupun tidak. Yang mana, semuanya telah menjadi guru (Makna Konotasi) bagi saya. Yang mengajarkan saya banyak hal. Juga yang mengajarkan saya untuk memetik pelajaran dari setiap kejadian. Terimakasih.

Akhir kata, sebelum lemparan dan bunuh – bunuhan menjadi nyata. Sebaiknya saya sudahi kata pengantar ini. Dan sekali lagi, saya ucapkan (yang seharusnya bergema jutaan—bahkan ribuan, kali lipat), Terimakasih.

[EDIT] Ini cerpen ketemu di My Documents setelah keburu ubanan. Waktu itu, ini jadi tugas bahasa Indonesia saya di kelas 10.

Daily Blabbers

I hav finished reading Lelekong Terindah!. But, err.. my after-taste was like: "Ah, si Andrei Aksancong itu terlalu utopis bin sinetronistis!" -then continuing [it was an sms to my one-of-happy-harem, Astari, i made it 160 char - 11 for efficiency: FYI]- "Ayo sayangku, kita buat cerita yang lebih nyata!"

Untung tak dapat diraih, Malang apel ijo-nya asem; gayung bersambut(!). She replied: "Ayo!
Q lg ngrancang crta, masi blum jls jd cerpen ato kbntuk yg lbh pnjang. Gaya lesbiolanya bgus. Dpet ide pas lg mandi (saat produktif: mandi n boker). K? Ujang?"
-FYI, K merujuk ke "ka"-dialek Bangka-: kamu -dalam bahasa Indonesia- dan Ujang adalah cerpen terbaru saya: Ujang Tidak Baik -Lihat di Forum Cerpen & Cerbung juga ada-

Saya ingin membalas ini [On SMS, i should remind u!]: Sama! ku dapet ide bagus waktu mandi atau be*ak. Tentunya mengajarkan bagaimana seorang Q muda yang "fine".
-lucu. Biasanya saya mengutuk keseragaman-
[End of SMS]
Sayangnya, pulsa habis. There.

Perlukah ini dibahas lebih lanjut? Saya punya cerita lain lagi: I wrote to Rizal Mallarangeng. Here goes: Johan Tampubolon berkata...

Err.. Rizal, i'm not picking side; but, here goes:
You don't have to be a president to weave that nice dream. Be something else; better: an Independent Hero.
Hero doesn't spend his money on campaign; he spend it on building a better workshop -with better Code of Conduct; better social welfare; more humane- on answering to the case of suffering labour in Indonesia.

Hero doesn't dream to much on wide-spreading the idea of fine youth; Hero does it now, Hero does it here: Go catch urself another dream weaver. Find youth with brilliant ideas. Campaign nationality, not self. Publish appreciation to creativity, not smiling picture of yours.

Be Hero, Rizal. Real one. The Hard-cored one.
--------------

Sayangnya, itu posting terakhir sudah setahun yang lalu. Mungkin semangat si kumis itu juga sudah redup. Bah! -Oke, Ms Dian Ara, i've breach HAKI and used ur trademark "Bah!". Curse me, tie me tight, anything!-

Err.. apa lagi yang harus saya ceritakan? Kecemasan? Ya, itu: kecemasan. Tampaknya, 2 hari ini saya terlalu memberatkan diri. Saya ketakutan akan apa yang akan menanti di hari minggu ini: Kampanye Calon Ketua Koordinator Forum PMR Cabang Pangkalpinang. Saya takut. Saya tidak yakin lagi pada diri saya. Ada yang tahu kenapa? Ada yang tahu? Anyone? -silence- Self-esteem case, u human!: Saya pencemas, dan sekarang takut jatuh terlalu dalam pada satu dunia. Tahu sendiri -bagi yang sayang-, saya penakut; saya selama ini mengikuti intuisi untuk tetap jadi pengamat. Sayangnya, kali ini berbeda. Ada bisikan lain: berubahlah. Yang saya ikuti bukan intuisi -mungkin-, melainkan konsolidasi atas stagnansi -mungkin-: Saya dan kemalasan saling membuat alasan untuk semakin dalam menancapkan akar-ikat masing-masing. Bodoh? Kenapa tidak ada yang mengingatkan? -nyalahin orang-. Oh, well, i'm confronting it by now. Heave ho, yo biatcho!

Sekarang apa, ya? Saya masih cerewet, nih. Pingin cerita acara belanja ke pasar kemarin, tapi lagi capek ngomel; taro fotonya aja, ya. Go see my blog!

I'm with looneys.

As i set my reverie free, i questioned my self: Is it me who is insane -and can't understand their concept of sanity-?
; Or them?
I feel like i'm trapped in an never-stopping carrousel: Spinning 24/7, never knowing what ending is like; never remembering where start is.
There's this one: who never listens.
There's other one: who never stop paying revenge.
More: those who speak+teach+guide; but miss hearing+understanding+acceptance.

...and among: there's this one who never stop losing to dreams; falling to reverie; losing consciousness by the pill of sloth: [Me.]

Now, who's crazier?

Hari ini, saya merasa jadi pemenang.

Saya merasa jadi si menang; si cerdas yang boleh mengangkat dagunya sedikit.                         Banyak hal yang membuat citra-hati saya cerah (dan boleh digambarkan dengan smiley senyum). Musik baru; Orang baru; Semangat baru.                                                                                   Sayangnya ada mimpi baru yang menambah berat daftar tumpukan.

[Judulnya juga salah satu OST Berbagi Suami. Dimainkan Aghi Narottama, Bemby Gusti & Ramondo Gascaro (2 nama terakhir: personil sore)]

[CERPEN] Ujang Tidak Baik

- Setiap hari, oom datang ke rumah. Ngobrol dengan ayah, lalu mengantar aku ke sekolah.

- Setiap hari, saya datang ke rumahnya. Melepas rindu. Biasanya kami berciuman sebentar; saling sentuh - namun tidak lama-. Kami harus melakukannya dengan singkat. Karena, hanya ini waktunya: saat istrinya sedang ke pasar. Alasan saya? Mengantar anaknya ke sekolah.

- Setiap hari, ia datang ke rumah. Bercinta ringkas. Mau bagaimana lagi? Saya sudah punya istri. Bahkan, anak. Tapi, saya suka. Saya menikmati permainan ini. Saya merasa jadi pria yang hidupnya penuh tantangan. (Saya lelah dengan segala kebosanan).

- Hari ini saya akan membunuhnya. Saya tidak ke pasar. Saya beli sayur pagi-pagi di Ujang (tukang sayur keliling). Saat saya pulang ke rumah -sehabis nongkrong di pangkalan ojek di ujung gang, minta digoda-, Ia -si Ujang- biasanya sudah di depan rumah saya: akan mengantar si Buyung.

[Hari ini tidak biasa]

- Aku sakit perut. Tidak sekolah.

- Anaknya sakit perut. Tidak perlu saya antar. Kami bisa lebih lama.

- Anak saya tidak sekolah. Tidak diantarnya. Kami bisa bercinta agak lama Saya bisa merasa lebih tertantang. Kebosanan mungkin terpuaskan.

- Buyung sakit perut. Saya tidak harus buatkan sarapan pagi-pagi. Mungkin bisa lebih lama di pangkalan. Jiwa ini rindu dipuja. Saya wanita yang perlu diingatkan bahwa saya cantik. Saya tahu saya cantik. Namun, kangen saya pada belaian lelaki: suami saya tidak mesra lagi (kadang itu membuat saya meragukan kepercayadirian saya).



- Ayah dan oom ngobrolnya ribut. Aku tidak bisa tidur.

- Saya mendudukinya. Ia menggelinjang; mengerang. Ternyata saya lebih perkasa: dibanding dia yang selalu mau peran pria; saya lebih perkasa.

- [Hanya sakit. Namun, tidak ingin lepas]

- Sepeda Ujang kenapa diparkir di depan rumah? Bukankah hari ini Buyung tidak sekolah? Apa mereka bermain sekaligus dengan wanita itu? Keterlaluan, Ujang. Saya kira ia baik. Saya harus menghentikan ini. Sekarang, permainan sudah terlalu rumit. Saya singkap gorden kamar. Dan, ternyata:
Tidak ada wanita; Ujang tidak baik; dan suami saya tidak lagi pria.

TAMAT.
-----------------------
Err.. ini dibuat tadi pagi. Pas ulangan Matematika. Selesai ulangan, temen baca dan langsung komen: "Gaya bicaranya ndak ada yang beda, ya?"
Dan saya langsung mesem.

Saya sudah berusaha agar cerpen ini tidak jadi cerita porno. Sayangnya, kebablasan.

Kali ini, hubungan kami membaik! -Coming Out saya pada si Abang-

Beginilah seharusnya kisah ini dimulai: Saya adalah selingkuhan tuhan -dengan huruf kecil-.
Namun, sudah beberapa minggu ini hubungan kami membaik. Ia sering datang menunjukkan kasihnya; Saya pun mulai jarang mengutuk.
Banyak cerita yang ingin saya bagi; ingin saya ijinkan lekat di sini, agar kelak bisa diintip lagi -sambil tertawa; atau tertangis-. Namun, inilah sulitnya menjadi si sini-kini: ingatan saya hanya sekecil kacang! -sehingga, jika kepala saya digoyangkan, akan berbunyi [klutuk, klutuk..]-.

Kemarin, serangkaian nilai dipertanyakan: individualisme, liberalisme, dan komando(isme).
Semenjak abang saya kembali ke Pangkalpinang, keluarga kami mulai sering berkumpul lagi dan berbincang-bincang. Sesekali pembicaraannya pelan (lebih banyak keras). Mama mengajukan pertanyaan: jadikah bapak seperti bapak sekarang jika tanpa keluarga? -tidak ada yang menjawab. Karena, -saat kami berkumpul untuk bercerita- tidak ada yang mendengar. Bagaimana mungkin ada konklusi jika semua sibuk merevisi yang lain?

...dan tadi malam, saya bercerita pada abang saya perihal seksualitas; mengenai saya yang tidak mau membohongi rasa -walau mengendalikannya-; tentang kemampuan saya menjaga diri untuk saat ini -dan keraguan saya atas longevitas status quo-.
Dan obrolan kami ditutup begini: "Keras kepala kamu melawan!".
Begitulah.
Saya berusaha membalikan nilai-nilai yang tadinya mereka pegang erat (seperti Yesus yang mencuci kaki muridnya): Liberalisme yang tadinya dibanggakan abang saya dan ingin ditularkannya pada bapak (,Namun malam itu ia mengutuk liberalisme yang terlalu bebas-tidak-bisa-diatur-seperti-saya.).
Mengenai kepala yang keras (yang membuat abang saya jarang berbicara lembut dengan bapak).

...dan, ya. Sesi bincang kami malam itu diakhirinya dengan pamungkas: "Kita beda 9 tahun, dek".
Terimakasih.

Saya lupa menuliskan: akhirnya saya memberi tanda tanya pada realita yang selama ini saya anggap nyata (,Dan sempat terpikir untuk jadi bocah desa saja.).
Namun, saya lebih senang menunda kebenaran. Jika masih ada waktu untuk melihat-lihat, kenapa saya harus memutuskannya dengan gesa?
------------------------------------------------------

Mengenai gaya hidup pop, saya bergagas komunitas baru: Fine Q!
Saya ingin berbagi pengaruh mengenai bagaimana menjadi homoseksual remaja yang baik. -Ya, saya tahu penetapan baik-buruk itu kurang humanis- Masalahnya, saya sering tidak enak hati melihat teman-teman discreet gay yang tidak lekas keluar dari fase depresifnya; yang kemudian heboh sendiri; Dihina dengan ganas -dan kadang menyukainya-; dan, yaaa... hal-hal sejenis.

[Jinx-Me-Not: Kesalahan saya adalah seringkali tidak berjuang keras melahirkan konsep ini. Mereka sering gugur begitu saja. Apa ini berarti saya adalah si-tidur-yang-lambat-bangun? Lagi-lagi, saya mempertanyakan privasi vakum yang saya anggap sungguh. Jinx-me-not.]
__________________