Satu. Lidah Kelu, dan Sayap Kaku.

Kamu menangis malam itu. Aku hanya disitu. Diam dan menunggu. Berharap keberadaanku berarti untukmu. Walau hanya diam dan kaku, aku berharap kau bercerita padaku. Kau cantik sekali mengenakan gaun itu. Tangisanmu saja, tak cukup melunturkan kecantikanmu. Lidahmu tetap kelu. Aku pun begitu. Setengah jam lebih kita disini tanpa saling menyapa. Apa kau sudah lupa rasanya tertawa? Apa kau menangis karena dia? Sudahlah sayang, aku selalu ada.

Gadis itu masih menangis. Tersedu – sedu. Ia memeluk erat gaun putihnya. Sesekali ia menjerit histeris. Hanya mendengarnya, sudah membuat hatiku miris. Kami masih diam. Tiba – tiba seorang pria datang dan menghampirimu. Wajahmu seketika berubah. Air matamu berubah menjadi api marah. Kau mencoba meraih apa pun disekitar mu. Bantal, Sepatu mu, Gelang mu, Kalung mu, Tas mu, -- hampir semua. Pria itu melihatmu bingung. Kau mencoba lari, tapi pria itu sigap dan menangkapmu. Kau meronta, berteriak keras. Sang Pria hanya menatapmu kebingungan. ”Kamu kenapa!” Ia bertanya dalam bingung. Kepanikan tergambar diwajahnya. ”Diam kamu... Peduli apa! Kamu hanya memikirkan dirimu!” Kamu menjawab dengan nada rancu. Marah, tapi tak jelas apa yang membuatmu marah begitu. Pria itu masih mencoba mendiamkanmu. Ia mencoba mendudukkan mu di tempat tidur. Kau terlihat mulai diam. Ia coba bertanya, tapi terhenti. Sepertinya lidahnya ikut kelu seperti kamu. Ia duduk disana, bersikap abai pada kehadiranku. Tiba – tiba kamu memelukku. Walau masih dengan lidah yang kelu, hatiku tersenyum. Aku bahagia dapat meringankan sedikit bebanmu. Walau hanya sekecil debu, lebih dari cukup bagiku. Tiba – tiba aku teringat sesuatu..

Pertemuan pertama kita begitu kaku. Kau yang masih gadis kecil, bingung melihatku. Kala itu, aku pun masih ragu, siapa kamu. Waktu menerbangkan kita dari titik yang satu ketitik yang lain. Dari tidak mengenal hingga jadi sobat kental. Dimana ada kamu, aku disitu. Walau kadang kau jauh, hatiku bersamamu. Kita satu. Tak terpisah Bhumi dan Kala. Lepas dari ikatan fisik dan aksara. Tak terikat ruang dan waktu. Masih ingat kah saat kau mengajakku berlarian di dekat batu gantung dekat danau toba? Sehabis kita bertamu dirumah tulangmu. Tulang Simanjuntakmu. Kau bercerita padaku, kau ingin menari. Bukan, bukan menari balet seperti angsa putih. Bukan juga menari polka seperti putri di kerajaan belanda. Kau ingin menari sebebasmu. Kau ingin bebas melompat. Bebas mengepakkan sayap. Dan ingin mengajakku bersamamu. Mimpi itu terus kau simpan. Walau dunia terus berusaha menenggelamkan mimpi indah itu. Mimpiku? Seandainya ada yang ingin tahu. Aku hanya ingin bersamamu. Dimanapun kamu. Siapapun dirimu kelak. Karena kita satu..









Tiba – tiba kau memandangku. Wajahmu terlihat tersipu. Ahh, senangnya tangisanmu sudah kusapu. Apa kabar dirimu, sayangku? Aku ingin bertanya padamu. Tapi lidahku kelu. Kalian mulai bicara. Kamu dan Pria itu. Lidah kelu mu mulai luluh. Tanpa menjujung tinggi rasa Ge-eR, mungkinkah itu karena ku? ”Bang, aku minta pulang.” Kata- katamu dibalut ragu. Pria itu memandangmu bingung. ”Kenapa? Aku salah apa, dek?”. ”Seandainya sesederhana itu, Bang. Aku mohon. Jangan tanya lagi.” Kau tidak menatap matanya. ”Berapa lama?” Pria itu bertanya padamu. Ia tak ingin melepasmu. ”Entahlah. Selamanya?” Kau tetap tak menatapnya. Ia memandangmu ragu. ”Tidak, dek.”. ”3 Minggu?” Kalian masih bertatapan ragu. Aku memandang matamu. Yang aku lihat, kau tak perduli apa jawabnya. Ya atau tidak, kau tetap ingin pergi. Kalian masih berbalut dalam diam. Lidah yang Kelu, Sayap yang kaku. Kenangan kita mengampiriku lagi.

”Ul..” Kau memanggilku lembut. Ku harap aku bisa menjawabmu. Kau masih memandangku. Seakan terbuai, kau lama memandangku. Aku pun memandangmu. Tiba tiba air mataku meleleh. Aku memelukmu tanpa berkata – kata. Lidahku kelu, sayapku kaku..

”Bang?” Kau masih memanggil dia. Dia tidak melirik kearahmu. Dia sedang menghadapi pertempuran besar. Antara perasaannya dan gengsi laki laki. Perasaanya menang. Air matanya jatuh. Tak ingin mengganggunya, kau pun pergi malam itu. Kau membawaku bersamamu. Langkahmu terhenti dipintu. Kau bingung mau kemana. Tidak ada pesawat yang terbang selarut ini. Kau mencari bus. Malam itu kau berangkat ke pelabuhan.

Aku ingin segera berkata – kata. Namun mulutku tak bisa menyuarakan aksara. Kita masih berpelukan. Erat. Kita kembali menjadi satu. Tangisku, tangismu. Hangatmu, hangatku. Aku mengambil kertas dan mulai menulis. Kau memperhatikan setiap kata. Setiap 5 kata pula, tangismu menetes. Lidahmu kelu, terbalut diam yang kaku.

Tidak ada kapal penumpang yang berangkat jam segini. Namun kau tak berhenti berusaha. Keinginanmu menggapaiku melebihi apapun. Kau menyusup ke kapal angkutan menuju Sumatra Utara. Kau bersembunyi diantara tumpukan ikan. Bau ikan - ikan itu tak membuatmu terganggu. Hanya setitik debu dibanding keinginanmu untuk bertemu diriku. Berhari hari kau menginap disitu. Tidur diantara tumpukan ikan – ikan. Makanmu? Apa lagi yang lebih lezat dari makanan yang terhidang di depan matamu? Kau memakan ikan – ikan itu mentah – mentah. Saat kapal telah dekat Sumatera Utara, tiba – tiba seorang dari awak kapal memergokimu. Kamu panik dibalut ragu. Lidahmu kaku.



Hari ini kepergianku menuju aceh. Seorang tun telah resmi meminangku jadi istrinya. Entah yang keberapa. Ibuku cepat – cepat setuju. Mungkin ia lelah merawat anak bisu seperti diriku. Aku sudah terbiasa dihina. Aku sudah terbiasa dianiaya. Ejekan dan umpatan hanya membuat geli telingaku –selama ada kamu. Tapi aku tak terbiasa tanpa dirimu.
Karena kita satu.

Kapal ikan itu masih berlayar dengan gagahnya menuju Sumatra Utara. Masih berlarian bersama angin Laut Cina Selatan. Kau masih terjebak dengan orang itu. Aku tak jelas mendengar suara kalian. Namun, kita masih satu. Aku telingamu dan matamu. Aku adalah kamu. Aku masih dalam tasmu. Ia mengancam mu. Ia meneriakimu dengan sebutan penyusup. Ia memaksamu menyerahkan tasmu. Kau menolak. Kau ingat aku masih di dalam situ. Kau mengambil tasmu sambil berjanji akan memberinya uang. Sebelum ia menjawab, kau sudah membongkar tasmu. Mencari aku. Tanganmu meraihku. Tangannya merangkulmu. Kau berontak. Meronta dan menendang. Kau berlari. Tak peduli arah tujuan. Sampai di pinggir kapal. Kau melompat. Satu harapan. Kau ingin bersatu dengan ku.

Waktu seakan berhenti. Semua ingatanmu berlarian dalam otakmu. Kau teringat wajahku. Senyum ku yang tampak bodoh. Namun membuatmu bahagia. Kau teringat sebuah surat. Surat terakhir dariku. Aku tak sanggup bertahan tanpa mu. Aku melompat sepertimu. Ke laut yang sama denganmu. Kau menangis dan memeluk aku. Aku? Ya, aku yang hadir tanpa batas ruang dan waktu. Aku yang satu denganmu. Yang tak terpisah Bhumi dan Kala. Lepas dari ikatan fisik dan aksara. Aku hadir dalam ulosmu. Kain tenunan ku yang selalu kau bawa kemana – mana. Yang kau bawa dalam setiap tarianmu. Yang kau peluk setiap kali kau lelap. Yang ternyata masih kau bawa sampai saat kau menyatu.

Kau tak merasakan dinginnya air itu. Begitu juga denganku. Biarlah. Aku ingin lepas dari ikatan ruang dan waktu. Agar dapat selalu bersamamu. Karena kita satu.

Selesai.
---------------------------------
Setuang – dua tuang Teh Hangat
Saya seorang yang kurang pintar merajut aksara. Bisa dibilang, ini cerita pendek saya yang pertama yang saya selesaikan dengan senyuman. Karya – karya sebelumnya tak tercetak dikertas. Hanya di lidah saja. Atau, lebih parah, hanya berupa konsep abstrak yang wara – wiri di kepala saya.
Saya selalu berkeinginan untuk menulis. Namun, jari saya tak terlalu lincah menari (Bohong, alasan resmi untuk menutupi kesalahan sebenarnya : Malas). Saya tak henti-hentinya bersyukur (Walau tidak dalam bentuk suara) kepada Tuhan. Siapapun dia, yang berada diatas sana. Tuhan, Yesus Kristus, Allah SWT, Sang Hyang Widi, Dewa Langit, Jehovah, Dei, Higher Power, Para Dewa, Para Dewi (Silahkan menambahkan sendiri). Karena Tuhan adalah konsep interpretasi yang unik dari tiap – tiap manusia. Tuhan, seperti layaknya cinta, merupakan refleksi dari pengalaman hidup manusia. Saya tidak bisa memberi batasan pada itu. Karena itu, demi mempersingkatnya, mari kita sepakat menuliskannya sebagai Tuhan (Hal sulit lainnya yang tak terselesaikan).
Syukur saya juga terbang kepada Mama. Sosok ibu yang diam – diam saya candu-i. Selayaknya pengguna obat – obat terlarang yang tak perduli apapun demi mendapatkan barang itu, saya pun tidak peduli dengan ejekan – ejekan ’Anak Mami’, atau apapun lah. (Memangnya ada yang mau jadi anak tetangga? Hehe). Bagi saya, ejekan seperti itu tidak ada artinya dibandingkan cinta beliau yang sudah selayaknya saya balas. Namun, sungguh, konsep balas membalas seperti ini tidak baik! Saya membalasnya bukan sebagai balasan. Tapi karena benci. Benar – benar cinta. Hahaha.
Syukur saya juga, kepada keluarga saya, komunitas social utama dalam perkembangan jiwa anak, Papa, Kak Lani, dan Bang Daniel. Tak henti – hentinya saya berterimakasih kepada Tuhan telah menghadirkan saya sebagai kado bagi mereka (hahaha), begitu juga mereka, kado bagi saya. 
Sebelum dilempar dan dibunuh orang – orang yang belum disebut namanya, saya ucapkan terimakasih kepada saudara – saudara jauh-dimata-dekat-dihati saya yang lain, Opung, Tulang, Nantulang, Uda, Inanguda, Bapaktua, Inangtua, Namboru, Amangboru, Ito, Lae, dan semua muanya.
Sebelum benar – benar dilempar (dan dibunuh), saya berterimakasih juga kepada teman – teman saya, dimanapun berada. Guru – guru (Dalam makna denotasi) saya, dimanapun berada. Serta semua orang yang telah mengijinkan perjalanan hidupnya bersinggungan dengan saya, walaupun sesaat. Baik yang mengenal nama saya, maupun tidak. Yang mana, semuanya telah menjadi guru (Makna Konotasi) bagi saya. Yang mengajarkan saya banyak hal. Juga yang mengajarkan saya untuk memetik pelajaran dari setiap kejadian. Terimakasih.

Akhir kata, sebelum lemparan dan bunuh – bunuhan menjadi nyata. Sebaiknya saya sudahi kata pengantar ini. Dan sekali lagi, saya ucapkan (yang seharusnya bergema jutaan—bahkan ribuan, kali lipat), Terimakasih.

[EDIT] Ini cerpen ketemu di My Documents setelah keburu ubanan. Waktu itu, ini jadi tugas bahasa Indonesia saya di kelas 10.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

entah air mata kepedihan atau bahagia... berharap ini hanya sekedar tulisan imajinasi belaka, bukan sebuah pengutaraan apa yang terpendam dalam jiwa.